Acara 17an alias malam Agustusan kerap memakan banyak dana, terutama soal konsumsi.
Adanya konsumsi untuk acara 17an tersebut mengakibatkan anggaran untuk acara 17an yang tadinya gak seberapa menjadi luar biasa.
Cara yang paling bijak adalah dengan tidak meminta iuran baik dalam bentuk uang atau makanan dari warga.
Panitia bisa secara bijak tidak meminta iuran sebagai konsumsi dan panitia juga tidak meminta warga untuk membawa makanan.
Emang bisa bang?
Begini konsep konsumsi pitulasan tanpa iuran makan
Bisa dong, kalau pakai konsep malam 17an anti iuran konsumsi berikut ini.
Caranya adalah membuka stand makanan.
Panitia menatap area malam 17an dengan desain tertentu misal misal memanjang atau melingkar.
Panggung pentas seni berada di ujung, sedangkan stand makanan berada di samping kanan dan kiri jalan menuju ke panggung pentas.
Dengan adanya stand makanan tersebut, maka warga sendirilah yang menjual makanan.
Lantas, pembelinya juga warga itu juga.
Dengan demikian, warga tetap bisa ikut serta memeriahkan sekaligus jualan
Kedua warga ikut memeriahkan sekaligus membeli makanan
Dengan demikian yang ada bukan iuran yang notabene konsumtif, melainkan justru 180 derajat berbeda menjadi siklus perekonomian.
Selain makanan tentu saja stand dapat dipakai untuk berjualan kerajinan, karya seni, produk anak-anak, dan lain sebagainya.
Nah ternyata kalau ternyata warga yang pasang stand kuliner tak banyak, maka justru jadi peluang.
Karang Tarunalah yang buka stand, dimana karang taruna dapat menjual minuman, makanan ringan, mainan anak, dan lain-lain.
Pengurus karang taruna, misal yang perempuan bisa jaga stand tersebut.
Biar gak modal, maka bisa kerjasama dengan toko, tinggal pinjem saja barangnya alias menjualkan, nah nanti kalau sisa tinggal dikembalikan.
Konsep pitulasan anti bosan
Lalu soal konsep malam pitulasan sepertinya juga tidak asik lagi kalau sededar duduk dengar pidato dan pidato
Konsepnya gimana itu bang?
Agenda dibuka dengan pentas pembuka dan lagu indonesia raya
Sebagai ceremonial, tidak perlu pakai pidato namun cukup gunting pita, pukul gong, dan lain-lain.
Nah orang yang gunting pita inilah si bapak Ketua RT, Ketua Karang Taruna, dan Pantia.
Boleh lah kalau Ketua RT menyampaikan satu patah kata sebagai pembuka, tapi sekali lagi bukan pidato hanya kata-kata pembuka.
Selanjutnya agenda dilanjutkan dengan pentas lagi
Misal pembacaan puisi, lagu kemerdekaan, unjuk kebolehan anak, unjuk kebolehan pemuda, pengumuman juara lomba, dan lain-lain.
Acara lebih asik, tidak melulu hanya duduk, dengar diam, dan bosan.
Gimana mantap kan agenda pitulasan kayak gini, tanpa iuran dan tanpa pidato.
Biar pengurus karang taruna gak kelaparan, bisa deh mengadakan konsumsi khusus untuk anggota karang taruna.
Ya notabene panitia nyiapin acara sampai malam, malam-malam biar gak kelaparan.
Posting Komentar untuk "Ide Konsep Malam 17an, Anti Iuran Konsumsi Lur"
Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar