Menakar Konspiasi Global

Isu tentang flat earth memang sudah lewat, akan tetapi energi yang tersampaikan masih begitu kental dipikiran. Saya tidak hanya menikberatkan tentang apakah bumi itu bula atau datar, tetapi lebih pada apa sih yang ideologi pemikiran Bos DB. Kentalnya pemikiran tentang New World Order tidak bisa dianggap sebagai angin lalu. Tanpa disadari umat manusia sudah berada pada tatanan itu, bahkan segera terusir dari kampungya.

Bagi masyarkat awam tentu memahami konsipirasi global itu bukan perkara yang mudah. Tertawa tetapi sangat layak untuk diperhitungkan adalah lontaran - lontaran dari agen CAI Aming. Dalam sinetron Dunia Terbalik ini Komandan bolak - balik mengingatkan tentang konspirasi global. Pola pikir yang disampaikan oleh Aming bagi saya sangat empiris, dia mewakili bagaimana masyarkat awam menakar konspirasi global. Ya yakni dengan cara - cara yang fisik, bahkan menunjuk pada figur tertenut yaiut Alex. Melalui teknologi dari masa depan dan alat yang serba canggih, Alex dianggap ingin menghancurkan kampungnya. Sekarang yang jadi pertanyaan adalah apakah memang seperti itu bentuk konspirasi Global, dan dengan itukah kita menakarnya?

Konsiprasi Global tidak akan bernah bermain fisik. Mereka adalah kaum intelektual. Atas nama ilmu pengetahuan modern mereka membuat kitab - kita baru yang diimani oleh umat manusia tanpa disadari. Secara pasti dan nyata telah mewabah ke seluruh negeri. Bukan hanya pada tatanan ekonomi, tetapi lebih jauh dari itu, tatanan budaya, kesehatan, sosial, hingga negara pun telah berpasung dalam skema globalisasi verisi mereka. Yang perlu kita sadari bahwa, apa yang terjadi dengan manusia sekarang adalah suatu skema yang secara pasti dibuat oleh orang - orang tertentu, bukan semata - mata mengalir secara alamiah.

Kita tahu bahwa, hampir semua negara berhutang, bahkan Amerika sebagai negara adidaya nomer wahid pun juga punya hutang. Ni Paman punya hutang sama siapa ya? Inilah yang dinamakan hutang adalah bentuk perbudakan global. Bagaimana tidak, jika yang hutang negaranya yang mendapat beban adalah rakyat, kenapa demikian? Sudah jelas bukan bahwa kita sering mendengar bahwa Jika hutang negara dibagi, maka setiap warga negara menapat jatah hutang sekian dolar. Modern Slavery yang diterapkan begitu halus yakni dengan bentuk bantuan luar negeri yang kemudian berbunga alias riba. Jika negaranya ikut riba, terus apakah rakyatnya otomatis ikut riba? 

Masih membicarkan soal ekonomi. Sudah lama kita mendegar bahwa, 99 persen uang didunia ini hanya dipengang oleh 1 persen manusia. Terus Siapa 1 persen orang menguasai 99 persen kekayaan dunia. Mereka yang kaya bahkan semakin kaya, kaum kapitaslis begitu mudah memanjangkan tanganya ke pelosok negeri, nah mereka yang miskin. Ah boro - boro mikir bagaimana dunia ini terjadi, sudah bisa makan dan memenuhi kebutuhan keluarga saja sudah syukur. 

Belum lagi tatanan sosial yang rusak. Seperti waktu itu ada dilema soal Celup, niat baik yang dilema. Kita tidak bisa melihat bahwa hal ini sebagai keterpurukan yang wajar. Sebanarya sudah ada skema yang mengarah kesana. Bahkan tindak asusila tersebut banyak didominiasi oleh Abege yang gegabah karena pengaruh media dan budaya tanpa adanya suatu fiter. Seakan tidak asusilal menjadi hal biasa, padahal itu melewati norma, terlebih dilakukan dikhaylak umum yang gelombang negatifnya akan mempengaruhi genersi sebaya bahkan dibawahnya itu larut dalam budaya yang salah kaprah tersebut. Mampukah kita berfiikir, siapa yang mengkibatkan hal tersebut. Ya kita bisa sebut smartphone salah satunya, akan tetapi sebenarnya dia hanya salah satu medianya, yang lebih bertangungjawab adalah budaya bergaulan lawan jenis yang sudah dianggap wajar ini adalah adopsi dari barat, dimana mereka mengenal istilah pacaran yang tidak diajarkan dibudyaa timur. Akhirnya berdampak pada asusila karena masih dibawah umur yang tidak tahu tempat. 

Waktu itu, saya melihat kutipan yang indah di salah satu akun IG "Wahai Wanita, bahwa pendidikanmu yang tinggi bukan untuk menjadikan mu sebagai karyawati, tetapi sebagai madrash terbaik untuk putra - putri". Membicarakan tentang emansipasi wanita, bukan berarti wanita harus sama dengan laki - laki dalam hal karir. Pendidikan bagi manusia itu wajib, baik laki - laki dan perempuan. Emansipasi wanita seakan menjadi kebablasan. Bukan pada keprihatinan dalam dunia pekerjaan, akan tetapi peranya yang hilang saat dia bekerja. Tanpa disadari bahkan sudah menjadi budaya dan stigma masyarkat bahwa, ketika seorang wantia tidak bekerja menjadi buah bibir, bahkan seolah menjadi fenomena yang tidak lumrah. Padahal sisi laiinya adalah, saat keuda orang tua tidak berada dirumah, si anak tidak mendpatkan pendidikan yang layak. Madrasah untuk buah hati menjadi hilang, belum lagi dampak psikologi, dan mental yang ditimbulkan jika hanya berorientasi pada material. Akhirnya timbul lah anak - anak yang materialistis. Yang hanya beroreintasi pada harta dan materi. Bahkan tidak jarang ditemui anak - anak menjadi nakal dan melakukan tindak ketidakawajaran sebagai anak. Maka dari sinilah hancrunya sautu bangsa, karena dengan mengahuncurkan suatu negara bukan lagi dengan bom, tetapi hancurkan saja keluarganya, dimulai dari stigma terhadap ibu dan mental anak. Dalam hal ini lepas lah madrasah terbaik tersebut.

Belum lagi, keshatan kita yang dibombardir dengan produk - produk pabrik dengan label bergizi. Pola hidup yang semakin instan mendorong masyarkat untuk memilih yang cepat, termasuk hal makanan. Yang perlu diperhatikan bahwa, dalam warni - warni kemasan ternyata ada banyak segudang bahan kimia yang berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Maka tidak khayal bahwa "kok ya orang desa penyakitnya aneh - aneh". Ingat, sudah berkali - kali ternyata baik makanan dan obat yang mengandugn bahan kimia berbahaya, Barangkali itulah yang mengakibatkan banyak penyakit alien yang merongrong manusia. Apakah ini karena faktor tidak sengaja?

Dalam hal tetanegaraan, kita budaya korpusi seakan menjadi jati diri. Masyarkat dibuat berbelit - belit dengan birokrasi yang bisa saja si negara tersebut tidak menyadarinya. Urusan yang teramat panjang dan ruwet menjadi mereka yang punya hajat tanpa segan bahkan diangap lumrah melakukan gratisikasi. Praktek percaloan hingga pungli pun mengalir begitu derasnya. Kepercayaan publik pun menjadi terkikis, bahkan tanpa berkutik menjerat siapa sapa untuk menjadi jamaahnya.  Apakah ini pun tanpa disengaja, saya rasa tidak. Pola pikir ini memang ditanamkan dari kiblatnya. Lebih parahnya lagi yang menjadi kiblat pun bisa saja serupa.

Saat yang kecil terjerat dalm hiruk pikuk urusan perut, mereka tidak sempat lagi memikirkan apalagi berbuat. Merasa dunia ini baik - baik saja. Seakan semuanya adalah fenomena yang wajar. Keluh kesah pun sebenarya adalah cermin dari apa yang mereka rasakan, akan tetapi sudahkah ada psikologi negara hadir mengatasinya.

Kejangalan - jangalan ini lah yang patut kita pahami, bahwa sebenarnya benar - benar manusia berada dalam pangung sandiwara konsipirasi global. Konsiprasi yang terbungkus secara rapi yang berjalan memeras hingga tetes terakhir keringat manusia. Tinggal lah tulang dan kulit yang tak berdaya oleh mereka yang kini duduk diatas unta - unta merahnya. 


0 Response to "Menakar Konspiasi Global"

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar