Bubur Ayam di minggu pagi: Perspective Laki-Laki

Pagi itu aku bangun kesiagan, sudah hampir jam 7 baru bisa membuka mata, sambil sempoyongan berjalan kurapikan tempat tidur yang ada di depan tivi itu. ku ambil peraltanku dan ku masukan ke dalam ransel hitam kesayanganku. “andai saja tidak ada suara brisik itu mungkin aku masih tidur” dalam hatiku berkata dan karena merasa masih ngantuk sepertinya tidur lagi di kamar menjadi pelampiyasan yang asik. Akan tetapi “sudah lah aku harus pulang” sambil terigat pada seorang wanita yang sedang menanti kiriman sarapan dari ku. Janji tadi malam aku akan mebelikanya bubur ayam untuk sarapan dia pagi ini. semagat itu lah yang mendorongku bergegas pulang dan melupakan tidur pagi ini. di rumah sepertinya juga masih ngantuk,kalau tidur lagi mungkin tidak ada gangguan sama sekali. Tetapi terigat rencana tadi malam aku akan bersepeda di minggu pagi ini sambil membeli sarapan sederhana itu buat dia. Ganti baju dan berangkat bersepedapun tersampaian juga. Berat rasanya memang keluar pagi sambil berolahraga kaya gini. Tapi terigat kata “no pain no gain” jadi aku harus melakukanya.

Sebuah sms pun terkirim dari hape kuno ini, aku menawarkan sarapan kepada dia, “mau sarapan sekarang?” karena sms tadi pagi dia belum ingin sarapan. Dia mengiyakanya sekarang. Dan aku sambil terus bersepeda mencoba mengecek penjual bubur ayam yang pernah aku beli sebelumnya, “mudah-mudahan buka walau hari ini masih dalam rangka hari kemerdakaan” ternyata keberuntunganku datang. Sekitar 10 menit mengantri ku dapat juga sebungkus bubur ayam seharga Rp. 6.000 ini. ku bawa bungkusan itu bersama sepeda usang milik paman ku ini. rasa senang muncul ketika si dia datang menghampiriku di depan kosya.

Dengan pelan dia memakan bubur itu setelah sedikit obrolah tentang kesehatanya dia hari ini. untuk mencairkan rasa beku disitu aku pun ngobrol sana-sini, apapun dech. Terlebih disitu juga ada sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang duduk di teras kos ini yang membuatku merasa tidak nyaman. Sepatah dua patah kata saling bersautan diantara kami. Bermaksud ingin menghibur eee dia malah mengatakan hal yang tidak enak setelah mungkin kata-katanya yang tidak pas di telinganya. “tak buang lo buburE”, hatiku sakit bukan kepalang, mungkin memang benar kata-kataku ada yang salah sehingga dia berkata seperti itu, tapi bukan maksud aku sama sekali untuk itu, aku hanya bercanda memecah kehenigan, terlebih si dia yang cenderung diam tanpa ada stimulus dari aku. Oh tidak. Aku jadi sangat mangkel. Dengan penuh emosi di dalam hati aku terus bersabar dan mulai ngobrol sedikit demi sedikit setelah beberapa menit diam. Ku berharap bubur itu cepat habis karena aku ingin segera pulang. Rasa perhatianku seakan sudah hilang di terpa agin. Aku merasa kecewa, aku kesini bukan dengan menghilang terus tiba-tiba datang, bubur yang ku bawa itu tidak lah geratis, aku membelinya dengan uangku yang masih ku anggap besar nilai nominalnya. Aku pun meminta untuk pulang ke dia beberapa kali, setelah beberpa kali dia tidak membolehkan akhirnya dia mempersilahkan aku pulang, ya mungkin karena suasana yang sudah tidak nyaman itu.

Dengan hati pilu aku mengayuh sedepaku. Sambil terus memikirkan apa yang sudah terjadi tadi.

Kejadian yang terus berbayang itu mendorongku untuk menulis cerita pendek ini. sebenarnya mungkin certia ini lebih panjang lagi, akan tetapi renteran kronologi diatas sudah cukup mewakili.

Dengan harapan suatu saat cerita di blog ku ini bisa dipakai, mungkin jadi cerpen, novel atau bahkan film yang melihat sudut padang dari seorang laki-laki terhadap teman wanitanya. Maka aku berinama semua ceritaku ini dengan nama “perspektif laki-laki”.

0 Response to "Bubur Ayam di minggu pagi: Perspective Laki-Laki"

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar