Celup, Niat Baik yang Dilematis

Saya tahu betul keresahan dari pada founder Celup ini. Ternyata memang bukan hanya saya yang resah, teman saya waktu itu juga mengatakan bahkan dia bolak balik cerita hal tersebut, lebih general lagi ternyata ada gerakan yang bernama CELUP (cekrek, lapor, upload). 

Saya pernah membaca meme "menjadi baik itu mudah, hanya dengan diam maka yang terlihat adalah kebaikan, tetapi menjadi bermanfaat itu butuh perjuangan". Ya paling tidak itulah yang diinginkan oleh Celup dan kita semua. Celup hanya ingin mengembalikan ruang public kembali pada fungsinya. Ya memang kenyataan sangat buruk kita anak - anak kecil bermain di taman, di lapangan, lewat ditepi jalan, naik angkot, bahkan diparkiran bisa saja menemui tindakan yang tidak senonoh. Para Abege ini yang terlalu cepat dewasa ini menunjukan contoh yang tidak baik pada anak - anak, alhasil orang tua pun menjadi enggan mengajak anaknya ke ruang publik yang karena keadaanya sudah seperti itu.

Tindakan asusila ini ternyata bukan hanya terjadi dikota, di desa - desa pun banyak. Mungkin dapat saya katakan hampir merata, ealah ketika ada suatu public space yang dibagun yang disalahkan malah public spacenya, "tu dibuat pacaran" ya elah kalau lho punya bis terus ada pacaran di dalam bis lho terus lho mau bis lho yang disalahin "tutup aja tu bis" emang lho mau? ya gak kan.

Lebih lanjut lagi, seorang teman saya juga bercerita bahwa dia mergokin benar - benar di tepi jalan ada beberapa abege yang kaya gitu, terus dia nyamperin dan hanya bilang "cewek sekarang semurah itu ya". Udah cabut. 

Saya rasa, semua orang yang dewasa juga memikirkan ini, tapi gak tahu solusinya. Paling ya kaya teman saya dan saya hanya bisa memperingatkan, tapi itu sekali dua kali, itu pun kalau sempet, kalau tidak dilakukan secara efektif tentu tida berdampak secara massive. 

Celup ini berusaha untuk itu dengan sebuah gerakan yang mengajak orang untuk memfoto dan akan diupload di akun celup, ya tujuanya biar kapok orang itu. La mau gimana ya sudah dibilangin biasanya juga gak kapok dan masih banyak lagi yang bertebaran di ruang public, bahkan kalau dibiarkan saja justru akan semakin parah, karena adik- adik sudah didewasakan secara paksa.

Niat baik yang dilema

Saya juga sangat yakin Celup tidak ada maksud untuk menyebarkan aib, seperti yang dituturkan oleh FZ bahwa mereka hanya ingin mengembalikan fungsi ruang public pada fungsinya, jadi tidak terfokus pada orangnya.  Celup bermaksud untuk memberikan solusi yang didapat malah kritik, bahkan dianggap melanggar UU ITE tentang penyebaran pornografi dan hak privasi. Tepatnya asal 27 ayat (3) UU 11/2008 yang berbunyi, "Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik." dan UU Pornografi Pasal 4 ayat (1) yang berbunyi, "Setiap orang dilarang membuat, menyebarluaskan pornografi". Bukankah ini suatu delima yang sulit. Niat baik yang dilematis.

Masih mending kalau kita masih berfikir Celup punya niat baik, saya lihat masih banyak orang yang justru menyudutkan Celup akan niat baiknya yang dikira menyebarluaskan aib seseorang. Hal ini kan sudah dipikirkan, bahkan pihak Celup sudah memikirkan. Tolonglah sebagai masyarkat atau pembaca itu mbok ya lebih teliti, pahami betul apa yagn dimasudkan oleh Celup, setelah paham betul - betul baru kasih solusi bukan malah mencari celah dan mematahkanya sana sini. 

Kita Butuh Solusi

Saya akui, saya juga tidak setuju dengan cara ini, karena dapat menjatuhkan tempat/ public space tersebut dan orang yang diuplod walau disensor bisa merasa malu, tetapi yang saya nilai adalah caranya berfikir itu lah yang bagus. Kalau sudah demikian harusnya kita memberikan solusi bukan hanya sekedar memaki. 

Sudahkan kita memikirkan dan mewujudkan solusi dari keresahan kita bersama, paling tidak Celup sudah berupaya. 

Tindakan asusila yang dilakukan oleh abge seakan sudah mengakar. Tanpa malu mempertontonkanya di depan umum. Hal ini dapat berdampak negatif pada kedewasaan anak - anak disektiarnya. Bahkan secara jelas anak - anak kecil pun tahu apa yang telah mereka lakukan. Yang diinginkan oleh Celup hanya ingin mengembalikan ruang public agar dapat dinikmati semua orang tanpa terganggu dengan adanya adegan yang tida pantas. 

Terus jangan sampai kita malah menyalahkan tempantya, padahal hal ini terjadi dimanapun bukan hanya dilokasi yang disediakan untuk umum tetapi malah bisa terjadi dimanapun sekalipun di tepi jalan. Jangan hanya sekedar mengkritik orang yang berniat baik atau mengkritik tempat tersebut, tetapi cobalah berfikir bagaimaan memberikan solusi atas permasalahan sosial ini. Ingat anda juga punya anak dirumah. 
Celup sudah memberikan stimulus yang berusaha digeneralisasikan, dengan adanya upaya ini saya harap ada tindakan - tindakan lain atau bahkan kebijakan yang dapat mengambil inti sari maksud dari Celup yang dapat diterapkan di masyarkat. 

Berikan solusi terbaik untuk menjawab dilema ini. 

2 Responses to "Celup, Niat Baik yang Dilematis"

  1. Pada dasarnya saya apresiasi niat dari Celup untuk mengembalikan ruang publik agar menjadi sebagaimana mestinya... tapi mengunggahnya ke media sosial itu memang agak berlebihan. Mungkin dengan menegur akan lebih baik, walaupun tidak memberikan efek jera....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut hemas saya pihak Celup ingin melakukan suatu upaya dan campanye secara efetktif terkait fenomena asusila. Upaya yang bersifat teguran dapat bersifat cepat dan langsung. Disisi lain, teguran sudah dilakukan oleh teman saya bahkan saya sendiri juga sempat beberapa kali menegur, akan tetapi hanya bersifat sesaat dan lokal, hal ini selain tidak bisa digeneralisasikan, kurang efektif, dan beban sosial dari penegur sendiri juga sangat terasa.

      Hapus

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar