30 April 2017

Aku Nguyu Yen Kelingan

Agung Prasetyo

Baru - baru ini sektor wisata menjadi daya tarik baru. Banyak masyarkat yang berbondong - bondong ingin befoto pada spot tertentu. Fenomena selfie bagi kaum muda sudah menjadi hal lumrah, dengan puluhan gaya yang nyentrik dengan pede beprose didepan hp mereke sendiri (selfie). Lanjut, spot - spot foto ternyata juga semakin rame mulai dari hutan pinus, gardu padang, tubing, dan pesona alam yang ditawarkan. Lebih dekat lagi di Simo pun juga tak kalah, pasti semua sudah ke Lembah Gunung Madu (LGM) yang dulu jalanya berliku dan bikin ngeri, secarang menjadi surganya selfie. Berdeda tapi juga menarik yakni perpus Tumpi Read House yang memiliki daya pikat edukasi tersendiri dan tentu masih banyak lagi terlebih dapat dilihat dengan jelas di IG dengan #exploresimo. 

Mendapatkan income siapa yang gak mau? nah sebenarnya bukan kali pertama ini, sudah beberapa kegiatan yang sebenarnya mengarah ke pencapaian materi. Hati manusia siapa yang tahu, dulu sempat memiliki dua screen house untuk budidaya cabe bahkan sudah ditanam di kebun, panen sudah pasti, tapi ya waktu. Lalu agar tidak putus uapya pemanfatan lahan sempit juga dilakukan dengan mengandeng ibu - ibu sudah kami anggap memiliki integretas pasalnya setiap ada kegaitan yang diajak ibu - ibu pasti andil. 

Lanjut lagi, pembuatan screen house untuk penyemaian juga dilakukan, rencana yo agar bisa memproduksi bibit cabe sendiri, kalau dibuka standnya ya pasti memiliki nilai produktif. Belum selesai dengan itu ternyata hastrat itu tidak terbendung, sedikti demi sedikit gagasan demi gagasan kok ya malah berlanjut, yakni pembukaan wisata. 

Nah lho. kalau dilihat ini ya hanya sungai, cuma kali biasa bahkan banyak sampah juga. Dalam pemikiran tadinya mau ada semacam taman holti disepanjang jalan misal tanaman jahe untuk tahunan dengan polybag. Tanaman cabe, terong, dan lainya yang sudah tidak asing lagi di mata kami bisa jadi cuga mau ada disitu. Kalau ada taman holti sepanjang bantaran sungai kan asik thu.

Kalau memang sudah bersih dan rapi ternayta banyak inspirasi ya, coba masih kotor hemmm. datang aja ogah. Nah ini dia entah mengapa dech satu pesatu dibersihkan yang penting bersih dulu. 

Jantungnya Dung Tanjung yakni Buk yang sekarang bernama "Tanggul Belanda" mulai dibersihkan, tapi sebelumnya ada yang lebih awal lagi yakni penanaman tanaman taman di area parkir jalan Kali Cemara itu. Lanjut, setelah Tanggul kelar, rumput - rumput juga pangkas disektiar jalan itu dech. Jalan menuju Tanggul juga dirapikan. Eh tebing di depan gardu pandang 1 juga diberishkan tanahnya di kupas dan diperlihatkan padasanya. Rumput yang menempel dipadas juga dibesihkan guys dengan tangga lho. 

Awalnya cuma segelintir orang, bahkan gak ada orang ya pulang lagi dech coz gak ada yang datang. Dah lanjut saja seadanay orang minimal 2 orang dech sudah lumayan. Lanjut - lanjut pokoknya sampah harus bersih dulu guys misal sampang yang bersarang di pohon bambu itu huh ngeri banyaknya. wes nekat wae sikat. 

Agak ada inisiatif wes dimodali dikit lah. Beli seng untuk membuat plang "Kali Cemara". Sebenanya nama yang disarankan banyak tapi akhirnya jatuhla pada pilihan kata itu, dari pada membuat istilah baru yang belum diterima wes jeneng asline wae. Sungai itu dari dulu bernama sungai Cemara atau sugai Cemoro, Nah wes biar agar gaul kata kali sudah cukup familiar tambah Cemara yang nama aslinya. Yang perlu dipahami dalam bahasa jawa huruf "a" dibaca "o" lho guys, tapi kalau dibaca pakai vokal "a" lebih enak dech kaya "Kelurga Cemara" tho. 

Kembali ke Seng, ukuran 0,5 meter panjang 4 meter dengan dana ya 150 sudah dapat seng n cat kuningnya. Murah lah dari pada harus beli kaya model di Kecamatan Simo itu kan mahal. Potong bentar sudah ada (Aziz) yang pinter motong, yang nulis juga sudah ada Fajri Art, wes tuku kayu sisan, kayu usuk sing murah wae. wes opo onone potong - potong gabung beres bersama rekan2 sing ono (Bayu, Wawan)

Sore sudah jadi nah besuknya tinggal dipasang, lokasinya juga sudah ditentukan kok kemaren2. Kuning ketok ngejreng plus ketok banget. 

Tambah satu lagi, gardu pandang sepertinya bagus, wes bikin sebisane dibantu oleh rekan2 yang semakin bertambah beli kayu dan blabag semampunya cuma habis sekitar 150rb weh lah dalah wes dadi rek. Sore itu pun sudah bisa didirikan plus tangganya juga sudah ada yang membikinkan oleh lek Surat. Joss wes dadi. 

Tambah hari jalan - jalan dirapikan, rumput dibersihkan, di semprot biar mati, urung sudah datang jalan masuk kali cemara dari Utara sudah lumayan tidak becek. Kalau kemaren -  kemaren sudah ada yang datang tapi terpaksa jeblok. Eh lah dalah malah tambah lagi jalan peritgaan Kali Cemara di cor, terus jalan sepanjang Kali Cemara dari Timur ke Barat juga sudah dapat hurug ditambah dari kerja bakti warga dengan menggali padas disektirnya. 

Taman- taman mulai ditanam kembali pagar dipasang lagi setelah pasca banjir waktu itu, sekarang tambah lagi sudah ada gardu pandang kedua dengan bentuk bunga. 

Semakin kesini banyak yang senang klacen, sudah pada beli ban bahkan pelampung untuk mandi. Wes tambah rame, hampir setiap hari sekarang Kali Cemara ramai. Memang belum sepenuhnya buka dan insfrastruktur belum 100 persen siap, tapi kalau buat nambah koleksi foto kamu beres dech. 

Ngutip dikit "perubahan pasti terjadi, tinggal kita atau orang lain yang membuat perubahan itu" dari film Kartini kemaren. Salut tak ada habisnya demi satu tujuan mengembangkan potensi sungai yang memiliki nilai produktivitas, sarana pendidikan, dan wadah kita bersama. Pahit manis dan bumbu - bumbu sudah biasa dan itu wajar itu semua tidak lain adalah wujud kepedulian yang begitu tiinggi. Yuk ramaikan guys

0 comments:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar