04 Juli 2018

Manusia Tidak Bisa Menentukan Baik dan Buruk

Seringkali kita masih bingung untuk menentukan baik dan buruknya suatu perkara. Bahkan tidak sedikit yang mengatakan "ikuti kata hati". Apakah cukup dengan begitu. Kalau memang hati sudah manusia sudah sehebat itu, buat apa ada agama? Yang perlu menjadi pegangann bahwa "baik itu sudah pasti benar, sedangkan benar belum tentu baik". Inilah mengapa menilai baik dan buruk itu persifat absulut, bukan subjektifivas.
selamatmorningindonesia.com

Ustad Felix dalam video Youtubenya mengatakan "Kebenaran hanya datang dari Allah SWT bukan dari manusia". Manusia tidak bisa menentukan baik dan buruk. Seringkali kita mendengar bahwa untuk menentukan kebenaran ikutilah hati nurai. Pernah pula ada kasus, ketika ada berita negatif kita dengan enteng menjawab "tergantung bagaimana kita menyikipai". Apakah benar jika demikian. 

Ada pernyataan yang sangat mengelitik yang dicontohkan oleh Felix "baut apa beragama, yang penting saya baik". Apa benar demikian. Ada pepatah yang saya kutip dan ini sangat menarik yang saya kutip dari Graphic "musuh terbesar adalah mengikuti hati". Analogi yang sangat cerdas dipaparkan oleh Ustad Felix. 

Jika anda menjalin hubungan dengan wanita dan hubungan itu baik - baik saja, anda akan mengatakan "dia baik". Lalu, jika hubungan anda wanita itu sedang tidak baik, atau bahkan dia meninggalkan anda maka anda akan mengatakan "dia jahat". Dari contoh sederhana ini jelas bahwa baik dan buruknya menurut manusia adalah pandangan subjektif. Berarti hanya mengikuti hawa nafsu, perasaan, dan kepentingan Maka jelas bahwa manusia tidak bisa menentukan baik dan buruk. Maka "mengukit kata hati" adalah tidak benar.

Jawaban telak yang menerangkan tentang baik dan buruk yakni dalam Surat Albaqarah ayat 216 dengan terjemahan sebagai berikut:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Dari kutipan ayat Alquran diatas sudah jelas bahwa, bisa saja apa yang baik menurut manusia (hati manusia" adalah sesuatu yang buruk, tetapi bisa jadi apa yang dianggap buruk oleh hati manusia ternyata sangat baik. Lalu, masih pantaskah manusia menggunakan hatinya sebagai parameter.

Maka dengan tidak beragama apakah seseorang akan dikatakan baik? baik seperti apa? menurut siapa? sudah ada pedoman yang jelas yaitu firman Allah SWT yang tertulis dalam Alquran untuk menentukan baik dan buruknya suatu perkara. Pedoman inilah yang menjadi jalan hidup manusia bukan dengan mengada-adakan sendiri. 

Sumber: 
  • Youtube. 20 April 2018. Jawaban Cerdas Felix Siauw Patahkan Argumen Rocky Gerung Soal Kitab Suci Fiksi. Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=tFW7gMC6RrE
  • Admin SMI. 9 Februari 2016. Baik dan Buruk adalah Kehendak Allah. Sumber: http://www.selamatmorningindonesia.com/baik-dan-buruk-adalah-kehendak-allah/
  • https://tafsirq.com/2-al-baqarah/ayat-216

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar