03 Juli 2018

Kita Hidup di Zaman Apa?

Sebenarnya apa yang terjadi hari ini? saya kok merasa bingung. Semakin lama rasanya kok semakin menjadi - jadi. Jika kita tidak mampu berfikir, mungkin hanya akan muncul kata "ya begini lah hidup". Eit tunggu dulu, situ mau dibodohin? kalau saya mah ogah. Jangan hanya soal "kerja, kerja, dan kerja". Kalau hanya kerja, monyet juga kerja. Bagaimana kalau ternyata apa yang kita kerjakan diam - diam diambil oleh penguasa.

Saya tak pernah berfikir ini sejauhnya. Tetapi menjadi kepala rumah tangga tentu membuat kita harus berfikir lebih tajam. Dapur harus ngebul belum lagi segudang keperluan milineal yang mejelma mengalahkan sembako. Pulsa kek, kuota, hape, listrik, bensin, dapur, dan berbagai keperluan lainya mulai domestik hingga yang bersifat materiil. 

Saya heran, hanya mengurus berkas pindah saja lama dan antrinya gak karuan. Setidaknya perlu dua hari kalau lancar, mulai dari RT hinga Dindukcapil. Ealah ini cuma nyetak gini saja kenapa harus wira wiri dan nunggunya seharian. La wong semua sudah serba online masak iya masih gitu - gitu saja. Belum lagi soal pajak. Kok sekarang PebBB kok naik dua kali lipat ya. Belulm lagi pajak kendaraan ya elah cuma mutasi doang hapis 1,5 jud. Berkasnya juga cuma itu - itu saja. Apa - apa pajak 10 persen. Gaji kek, makan kek, pembelian sesuatu kek. La wong zakat saja 2,5 persen ini lho 10 persen. 

Belum lagi soal listrik, ada aja akal - akalnya ada kategori ini itu, kalau kena ya eRaM duh mampus tu. Bayarnya lipet coy, padahal makainya gak seberapa. Ini malah yang terbaru katanya ada elPGe 3 kg yang non subsidi yang harganya hampir dua kali lipat. Katnya 39 ribu. Aje gile. Sebenarnya harganya berapa sih, pakai istilah subsidi - subsidi segala. Udah lah berapa harganya jujur saja. 

Situ pernah kan ngantri BPJes, ya apa saja, mau buatnya ngantri, mau ambil obatnya lebih antri lagi. Terus obatnya. Obat apa ya?. Kok ini seakan manusia menghabiskan hidupnya dijalan Ngurus ini, ngruus itu terus. Apa iya kita hanya hidup diatas kertas. Gak kan kita butuh kenyataan bukan retorika. 

Ini kita rakyat, bukan pangsa pasar. Jangan perlakukan sebagai komoditas. Bila perlu itu gratis. Buat apa cari untung kalau ujungnya hinga yang terisa hanya tulang dan daging. Ibarat kata, kalau bisa nhi manusia apa yang bisa diambil udah ambil saja. Kalau seperti itu, terus bedanya apa dengan exploitasi, atau mungkin slavery. 

Kok saya melihat, seakan ambil sini, untuk situ. Seakan oke disini, gak oke disitu. Apa iya mau selalu belah bambu. Kita ini sama lho. Ya gimana lah harunya adil. Toh kita punya BuMen kaya, Perserot, Prum, dan Marjan. Gimana caranya itu cukup, bukan hanya sekedar mengeruk. Saya jadi inget kisah kerajaan dzolim yang minta upeti pada rakyatnya. Ya mudah- mudahan gak demikian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar