Akhirnya Aplikasi Tik Tok Ditutup

Pastinya semua sudah tahu bahwa aplikasi berbasis video Tik Tok telah ditutup. Nama Bowo pun mencuat sebagai salah satu kandidat yang dikambing hitamkan menjadi penyebab ditutupnya sosial media ini. Sejak dari awal saya sendiri pun sudah merasa resah, maka sudah sewajarnya memang Menteri Komunikasi dan Informatka (Menkominfo) menutup aplikasi ini. Jika anda menemui keganjalan pada aplikasi serupa silahkan adukan ke Menkominfo agar bisa segera mendapatkan tindakan. 

Tik Tok hanya lah saru dari sekian banyak Aplikasi media sosial. Kita tahu media sosial lain seperi Bigo juga punya pola yang kurang lebih sama. Mungkin masih banyak yang lainya yang tidak terjangkau oleh generasi zaman old untuk mengawasi putra - putrinya. Kalau secara kasat mata Bigo cenderung digunakan oleh mereka yang sudah dewasa, sedangkan Tik Tok lebih digemari remaja dan anak - anak.

Lalu apa yang salah? memang tidak ada yang salah dengan Aplikasinya. Setiap pengembang boleh lah dengan sangat krearif membuat atau memasarkan bahkan memberikan keuntungan kepada pengguna. Kalau pengguna media sosial untung, maka aplikasi tersebut banyak yang memakai dan pemilik aplikasi pun juga akan untung. Yang jadi masalah bukan lah aplikasinya, tetapi lebih pada penggunanya.

Saat pertama kali melihat Tik Tok saya pun merasa resah. Pada waktu itu ponakan saya menggunakan aplikasi ini sendiri, padahal usianya baru sektiar 5 tahunan. Berusaha untuk berfikir positif, oh mungkin memang video lucu - lucuan. Setelah beberapa video kok ada plesetan - plestan yang dikemas dalam lagu, bahkan cenderung bersifat negatif, bahkan mengarah pada pesan materilistis hingga seksualitas. La ini masih kecil sudah dicekokin tontonan kaya gitu. Keresahan ini pun juga timbul pada pengguna aplikasi lain di Bigo dimana orang berlomba - lomba mencari like, gift, dan lain sebagainya dan katanya tu bisa diuangkan. Parahnya para wanita itu menjual sensualitas demi keuntungan tersebut. Ada pula penguna Instagram yang tidak senonoh menampilkan sensualitas wantia pada sosok pria. Bukankah itu menyalahi kodrat. Ya memang lucu, tetapi kita harus befikir dampak sosiologinya. 

Disatu sisi memang tidak serta merta karena pengguna saja. Pihak pengelola aplikasi harus ikut aktif dalam mengawasi atau memfilter konten yang ditampilkan. Menkominfo pun menysyaratkan adanya pembersihan konten yang tidak benar, tidak senonoh, dan tidak layak posting. Syarat kedua harus adanya filter terhadap konten negatif. 

Memang segala kemungkinan bisa terjadi pada aplikasi manapun. Setiap aplikasi punya polanya masing - masing sehingga punya kecenderungan atau target pasar tersendiri sehingga tetap laku. Maka titik pointnya adalah pihak aplikasi harus lebih aktif dalam memfilter konten, bukan hanya berorientasi pada keuntungan semata. Terlebih genarasi milineal begitu familiar dengan smartphone dengan segudang kemungkinanya termasuk konten negatif. Pengguna harus lebih bijak dalam menggunanya, ada peran aktif dari orang tua, serta harus adanya perbaikan akhlak secara berkesinambungan. 

1 Response to "Akhirnya Aplikasi Tik Tok Ditutup"

  1. Belum pernah pakai tiktok sudah di tutup ya, terima kasih udah share, jadi tahu updatenya walaupun gak paka aplikasinya

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar