05 Juni 2018

Modernitas Berbanding lurus dengan Kompleksitas

Agung Prasetyo

Dibalik sisi kehidupan manusia yang semakin modern ternyata berbanding lurus dengan kompleksitas kebutuhan. Kebutuhan manusia secara instan seolah dapat terpenuhi, akan tetapi disisi lian justru suplay akan kebuthan tersebut semakin meningkat. Di era milinial manusia bukan hanya berkuat pada kebutuhan primer seperti kebutuhan era 90an yakni sandang, papan, pangan. Kebutuhan yang tadinya bersifat tersier menjadi bahkan menjadi primer. 

Amerika sebagai negara paling modern adad 19, 20, dan 21 saat ini memiliki masyarakat paling komplelks didunia. Tanpa harus melihat jauh kesana, mengkaca dari kehidupan milineal sektiar kita sekarang. Sandang, papan, dan pangan memang masih menjadi kebutuhan primer, akan tetapi bisa saja bukan pada peringkat pertama. Bisa saja pulsa atau sekarang lebih akrab dengan istilah kuota bisa jadi peringkat pertama, mengapa demikian ya karena kebuuthanya seakan mendesak, sehari tanpa akses internet seperti tak mungkin. Setidaknya obrolan via WA menjadi yang paling dominan. 

Belum lagi akan kebutuhan gawainya itu sendiri. Bagaimana membelinya, sarungnya, screen guardnya, dan kerusakanya. Belum lagi kalau akses internya yang tidak karuan. Sudah terlanjur membeli data dari operator A ternyata akses internya tidak berjlaan dengan baik, ini bahkan bukan perkara yang sepela, sudah bolak balik terjadi seperti itu. Memang kebutuhan akan komunikasi bisa terpenuhi dengan seketika, akan tetapi sulay berantainya pun tidak bisa dikatakan murah dan sederhana. 

Misalkan begini, manusia yang memiliki kemampuan berbahasa justru membutuhkan suplay kebutuhan yang lebih banyak dari pada hewan. Hewan tidak mampu berbahasa, tetapi bisa berkomunikasi. Dengan suara yang relatif lebih sederhana seperti meneong sudah bisa menyampaikan berfungsi untuk mengkomunikasikan maksud dan tujuan seekor kucing kepada kuncing yang lain. Sementara manusia tidak sesederhana itu, manusia butuh belajar bahasa, mengusai skill berbabahasa, tata krama berbahasa, dan harus mengusai lebih dari satu bahasa. Ini baru pada penguasaan bahasa, belum lagi berbicara pada medianya manusia butuh alat telekomunikasi dalam bentuk suara, gambar, tulisan, hingga video. Dan berbagai rententan lain seperti pulsa, kuota, pembayaranya, dan cara menggunaknya. 

Semakin tingginya kebutuhan tersebut ternyata juga berdampak pada tingginya kebutuhan akan finansial. Jika dulu negeri ini sempat menjadi salah satu negara termakmur pada masa kerajaan Majapahit, Sriwijaya, dan lain sebagainya sekarang sudah tidak lagi. Kebutuhan akan masyarkat awam begitu mudah terpenuhi dan mencukupi. Sekalipun dengan panen hanya setahun sekali sudah lebih dari cukup terlebih saluran irigasi yang terdistribusi dengan baik. Dengan hasil pertanian tesebut sudah bisa mencukupi  untuk sandang, papan, dan pangan. Akan tetapi sekarang ini tidak cukup dengan itu. Sebuah keluarga harus mengeluarkan kebutuhan ekstra yang dulu tak pernah ada. Katakan tagihan listri, pulsa, uang sekolah, pembelian kendaraan, pajak kendaraan, pajak tanah, smartphone, fotografi, kecantikan komputer, laptop, kesehatan, rekreasi, akses internet, dan lain sebagainya yang memerlukan rupiah.

Manusia sekaan dipaksa untuk mengeluarkan apa - apa yang hadir di era milineal. Sekalipun dapat berfikir, tetapi tetap harus dikeluarkan rupiahnya. Alhasil tidak bisa lagi memangkas kebutuhan tetapi manusia harus mendapatkan rupiah lebih banyak untuk mencukupinya. Apakah benar manusia benar -  benar membutuhkan itu semua?

0 comments:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar