11 November 2017

Polemik Seleksi Perangkat Desa

Agung Prasetyo

Membicarakan polemik seleksi perangkat desa sama halnya anda bertanya "apakah ada prostitusi di Alexis?". Sebuah pertanyaan yang sebenarnya semua orang sudah tahu jawabanya. Hari Kamis kemaren disejumlah group agak heboh tentang hasil seleksi perangkat Desa. Memang sejumlah desa sudah mengumumkan hasil seleksinya bahkan secara cepat tersebar. Saya sendiri justru tidak tahu siapa nama Carik yang baru di Desa saya, tahunya justru malah dari tempat lain. 


Beberapa nilai ada yang terpaut agak jauh dari yang lolos dan yang tidak, tapi sepertinya ada pula yang agak wajar. Pemilihan ini bukan hanya memilih Carik atau perangkat Desa tetapi juga kaur dan kadus. Panitia pemilihan adalah dari Desa masing - masing bukan dari pihak luar atau dari pemerintah pusat. Tes yang dilakukan yaitu Agama, Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, dan Pengetahuan Pemerintah Desa. Terkait dengan sumber soal saya kurang paham dan kriteria panitia seperti apa saya juga kurang paham. Terlepas dari itu sebenarnya sangat mudah, toh soal itu sama untuk semua peserta dan tinggal menghitung hasil dari skor setiap nilai dan hasilnya sudah keluar. Terlebih pesertanya antara 2 hingga 5, tentu lebih cepat bukan. Saya pikir persoalan soal juri tidak rumit. 

Ada yang bilang polemik ini sudah jadi budaya. Ya betul, kalau sudah jadi budaya kenapa musti heran. Namanya budaya, berarti kita sudah paham kan, tapi kenapa kok seolah - olah menjadi sesuatu yang perlu diberbincangkan dan diangkat. Ya itu hak anda, terserah. Kalau mau ada semacam demo, penolakan, atau pengangkatan ya memang boleh. Tapi bukan itu cara berfikir saya.

Sakali lagi, anda hanya akan menjawab pertanyaan yang anda sudah tahu jawabanya, jadi kenapa musti tanya. Sebagai bagian dari masyarkat atau wong cilik coba tanyakan kepada diri anda. Apa sebenarnya yang ingin anda kontribusikan dari dari anda, dari sekian banyak pengalaman dan pengetahuan anda hal sekecil apakah yang anda ingin tularkan untuk mengambankan desa anda. Tak perlu lah muluk - muluk karena saya yakin itu tidak mungkin. Yang kecil saya yang mau anda tambahkan ditanah kelahiran anda. Coba fikirkan itu saja. Sudah? iya sudah? o ternyata belum?

Kalau sudah, sudah sebarapa juah, kalau belum, ya elah. Lakukan dulu lah. Kembali ke niat awal, kalau anda mau kontribusi ya sudah, kalau mau kasih ya kasih saja, saya punya prinsip "tak perlu menjadi siapa untuk berbuat apa". Kalau mau berbuat sekarang lah, coba berikan sedikit saja yang bisa anda lakukan di Desa, taman baca kek, karang taruna kek, mengajari komputer, TPA, gotong royong, kerja bakti, memberishkan tempat ibadah, meningkatkan ekonomi masyarkat, mengajak ibu - ibu, menampung aspirasi pemuda, ya apapun lah yang anda bisa sesuai latar belakang anda. Coba lah itu dulu. Lakukan, jangan hanya sekedar hangat- hangat tahi ayam. Bisa jalan 1 tahun saja bagi saya itu sudah jempol.
Ingat, berbuat di Desa itu berat lho dari pada di Kampus, di desa itu kesenjangan sosial, ekonomi, dan pendidikan itu tinggi, jadi repot. Kita punya pemikiran yang semulia apapun belum tentu diterima, malah dimusuhi la iya. Gak gampang itu bro. Enakan dikampus, orang pinter- pinter, dari kalangan menengah keatas, lebih homogen. Kalau di kampung behhh. Dapat masa 1 orang saja sudah alhamdulilah. 

Lanjut, kita generalisasikan lagi. Kalau anda mungkin berbuat tadi sudah bagus, itu kan mungkin baru dilinkungan RT anda sendiri atau dukuh anda sendiri. Nah kalau mau cakupanya lebih luas kan harus ketingkata Desa tho. Anda ingin jadi bagian dari Desa? ngimpi kalau belum - belum sudah obrak - abrik soal seleksi perangkat desa atau entah apalah yang ada di Desa. Bukan kaya gitu kalau mau dapat apreasiasi dari Desa.

Jadilah baik, tunjukan yang baik, upayakan yang baik, dan dengan cara yang baik. Kalau anda sudah punya nilai jual di RT atau dukuh atau kampung anda dan mau berbuat lebih luas di lingkungan desa maka anda harus pergauli mereka dengan baik. Sedikit demi sedikit Desa pun juga akan melirik anda, jika anda beruntung maka anda akan bisa berkontribusi ke Desa anda. Mereka akan meliri anda. Bahwa anda mampu untuk menjadi bagian dari desa dan mengembangkan desa jika anda benar - benar loyalitas di lingkungan anda tadi itu.

Disini bukan untuk menjadi perangkat lho ya. Sekali lagi ini adalah cara untuk berbuat baik. Kembalikan diawal, tujuanya adalah memberikan manfaat untuk orang lain bukan, bukan untuk jabatan. Nah selamat anda sekarang sudah bisa bermanfaat bukan hanya dilingkungan RT tetapi sudah dilingkungan Desa dan mungkin akan semakin luas lagi.
Kalau anda benar - benar meniatkan itu, tanpa harus jadi siapapun yang penting niat baik anda selalu didukung oleh pihak manapun tentu lebih menyenangkan bukan dari pada anda gak mendapat dukungan sama seklai. dengan catatan harus tanpa cacat dulu lho ya. 

0 comments:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar