19 Oktober 2017

Iklan MeiKarto, Potret Jurang Kesenjagan Sosial

Kamu pasti tahu kan iklan properti yang satu ini. Berbicara tentang iklan memang penting ya, karena sipenjual ingin produknya dikenal dan laku dech tu barang. Setiap orang boleh iklan itupun sah - sah saja. Iklan mengandung pesan untuk membujuk atau bernuansa persuatif. Ingat ya yang persuatif itu agar barangnya laku lo ya, bukan persuatif lainya. 

Faktanya banyak iklan bukan hanya bertolak pada "action" dari calon pembeli. Sejumlah iklan seringkali dibubuhi dengan cerita. Bahkan di Tailand iklan sampo merek Sunlite juga menceritakan bagaimana gadis yang di anak tirikan dan mengalami perjuangan yang luar biasa dalam mewujudkan mimpinya menjadi seorang pemusik, al hasil dia berhasi memukai para dewan juri dan penonton dalam ajang pemilihan bakat. Keren suer. Kalau ini sih keren biarpun panjang. Tapi ada yang aneh pada iklan yang salah satu pengembang properti di Indonesia. 

Dalam iklan MeiKarto ini mencertikan seorang anak yang sedang naik mobil ditengah ujan. Asik banget ya, yang lain kehujanan dia adem - adem di dalam mobil. Iget gak semua orang punya mobil dek. Menurut Tempo jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,77 juta orang. Juta lho ini, itupun yang keitung. Adek syukur orang tuanya punya mobil. Adik ini dengan begitu polos melihat suasana hiruk pikuk kota yang penuh dengan potret - potret wajah fakta hidup yang tak tertolak. 

Wujud kemacetan, kekerasan, sungai kotor, kehidupan di kota yang kotor, dan kriminal. Hal ini terlihat jelas lagi dengan banyaknya mobil yang berjajar dijalan, lalu ada sejumlah sepeda motor yang mengambil sela - selanya. Si anak juga kaget ketika ada sesuatu barang yang terlempar ke kaca mobilnya, sampah yang berserakan dijalan, sungai yang kotor, orang - orang berlarian dengan payung di tengah ramainya kota, bahkan ada adegan penjambretan. 

Mari kita perhatikan, itulah berbagai permasalahan sosial yang ada di kota besar, ya memang seperti itu, hal negarif seperti ini kenapa justru ditampilkan, bukankah semakin menerika stimulus negatif manusia juga akan terkontaminasi dengan hal negatif. 

Selanjutnya adik itu bilang "bawa aku pergi dari sini". Ya enak banget adik bisa bilang kaya gitu ya. Ya iyalah diakan diasumsikan sebagai anak orang kaya, lalu adik itu meluncur ke surga yang disebut Meikarto. Meikarto ini diasumsikan sebagai solusi dari pelbagai hiruk pikuk ketidakstabilan kehidupan sekaang, bahkan mendukung anak untuk mewujudkan mimpinya dengan lebih mudah. Ya iya lah la wong tempatnya bagus fasilitas mumpuni tentu secara logika akan jauh lebih baik. Lebih baik karena rencana kota baru yang ada di Bekasi ini dibagun secara integrasi dengan pusat pembelanjaan, rumah sakit, hotel, dan tempat hiburan. 

Yang jadi point disini, ini kota memang untuk semua kalangan atau hanya untuk mereka yang berduit saja? Kalau dilihat bahwa terdapat 250.000 unit rumah, sisanya adalah 100 hektar ruang hijau terbuka dan 1,5 juta meter persegi untuk ruang komersial (buat bisnis kali ya). Ternyata kalau anda mau pindah bareng adik tadi harus bayar dulu dengan harga mulai Rp.10 juta per meter persegi, ya walau masih ada diskon. Tapi tetap saja bayar jadi sudah jelas ini ada komersil. Do'a saja sih mudah - mudahan anda juga bisa punya rumah disana ya.

Kita tinggal, kelebihan di kota baru ini. Ya namanya dagang ya boleh lah ya, termasuk dagang rumah itu justru menjadi salah satu bisnis paling menguntungkan. Kenapa kita tinggal karena memang mbak Mei tidak perlu dipermasalahkan. Bahkan solusinya sangat bagus. 

Yang jadi soal adalah kenapa harus disandikan dengan potret kehidupan yang sekarang. Ini iklan tidak murah lho, katanya menghabiskan dana 2 M. Bagi saya merasa bahwa kenyataan hidup yang ada sekarang seakan - akan itu memang hanya cukup dihindari bila perlu dihapus pakai penghapus thu. Ingat inilah kenyataan Ibu Pertiwi, saat dia menangis terlunta - lunta apakah kita cukup dengan memandangi ya saja lalu dianggap itu saja berlalu, seakan - akan yang susah kan dia bukan saya. Apakah memang benar adanya yang kaya semakin nikmat yang susah ya sudah. Dengan solusi kota terbaik tersebut tentu hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berduit. Kalau yang tidak, bagaimana, bisakah ikut merasakan? "kalau ngintip sih mungkin bisa ya". 

Kesenjangan sosial memang sudah terpaut sangat tinggi. Mereka yang mampu dapat menikmatinya, tapi mereka yang tidak bisa saja semakin terpuruk. Cukup puaskah kita dengan keyataan yang seperti ini. Sikap apa yang harusnya diambil. Menghindarkah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar