18 Maret 2017

Meniti Galengan Menjaja Tape

Agung Prasetyo

Sudah tidak asing bukan dengan kata "galengan". Kalau orang Jawa pasti tau lah. Iya betul yaitu pembatas sawah. Galengan merupakan pembatas sawah antar satu sawah dengan sawah lainya. Galengan juga dibuat sebagai terasering agar sawah tidak longsor. Lebih dari itu galengan ternyata juga biasa digunakan sebagai jalan setapak bukan saja para petani, tetapi juga penjual tape.

Sama seperti halnya tahun - tahun sebelumnya, musim panen tahun ini sektiar bulan Februari saya andil dalam memanen sawah. Bukan lagi berpakian rapi, tetapi memakai pakain lengan panjang, celana panjang, lengkap dengan topi bundar, dan buff penutup muka.
Sudah bukan hal baru memang, tetapi karena lebih banyak duduk dibangku sekolah dan kuliah dan jarang juga kesawah terlebih tidak sekuat orang - orang di desa sini ya ala kadarnya memanen padi. Terlihat indah kalau pandang, tetapi begitu gatal, capek, dan panas saat terjun disana. Sekalipun tidak panas kemaren hujan deras mengguyur dan tanah sawah yang berlumpur dan basah seakan - akan bukan lagi hal yang kotor.

Sebenarnya saya bukan mau cerita tahu itu, tapi masih menyambung. Siang hari saat kami sedang bekerja ada penjaja tape yang datang menghampiri kami. Sebenarnya saya sudah berkali - kali melihatnya, tetapi kali ini saya tertarik untuk mengangkatnya. Tanpa pikir panjang foto demi foto diambil dan sedikit bincang - bincang sembari istirahat.

Tanpa pikir panjang negoisasi singkat langsung sepakat, satu tenggok (wadah untuk menakar gabah yang terbuat dari bambu) gabah yang sudah bersih di disiapkan dan penjaja tape pun menyiapkan sejumlah tape yang ditata satu persatu lalu dibungkus dengan daun jati. Sektiar 5 -6 bungkus daun jati diletakkan dengan lokasi pemeanen dan gabah tadi dimasukan ke dalam bagor (karung) milik penjaja tape.

Transaksi sederhana yang telah membudaya ini bukan dengan uang, melainkan dengan sistem barter, kalau kamu berifikir sistem barter hanya ada paja zaman dulu ternyata salah, di tahun 2017 ini pun masih berlaku. Bagi saya justru lebih mudah dan sederhana, tidak ada tawar menawar yang berarti karena sudah saling memahami.

Ibu yang saya lupa namanya ini berumur sekitar 50 tahunan, berasal dari desa Masaran, Kecamatan Klego, Boyolali. Ibu itu datang ke Simo bersama rombongan dan turun di titik tertentu untuk selanjunya mencari para petani yang sedang memanen padi. Mereka berangkat pagi dengan membawa satu keranjang tape, lalu menyusuri galengan dan menukarnya dengan gabah. Selain perjalanan menyusuri galengan yang cukup jauh, mereka juga harus membawa tape singkong yang berat dan pulang membawa gabah yang tidak kalah berat. 

Selidik punya selidik ternyata para penjaja tape tidak memporduksi tape sendiri, singkong yang didapat dari warga sekitar Klego, lalu diolah menjadi tape, setelah tape masak dipasarkan ke kota Solo dan sebagian dipasarkan oleh para penjaja tape dari dua Kebayanan Desa Masaran, Klego. 

Seakan tidak lekang oleh zaman, penjual tape hingga sekarang pun masih bisa dijumpai di persawahan di wilayah Simo. Bagi saya menukar tape singkong dengan gabah menjadi wajib, kalau ibu saya membujuk ibu saya untuk menukarnya karena saya suka dengan tape. 

0 comments:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar