17 Desember 2016

Landaskan Hanya pada Pengabdian

Agung Prasetyo

Bukan tidak sedikit tapi banyak, bukan sekedar ucapan tapi tindakan. Ada banyak upaya dan usaha yang berusaha kita terapkan di masyarkat. Hal ini tidak lain dan tidak bukan hanya lah untuk pengabdian dalam memajukan tanah kelahiran. Apa yang terjadi sebagian besar tertolak. Tertolak disini bukan berarti tidak berjalan ada banyak kegiatan sudah berjalan mulai dari pembentukan organisasi, kegiatan tahunan, dan program kerja. Bahkan sudah menjadi agenda tahunan. 

Melihat lagi ada banyak sekali program atau pelatihan dari berbagai pemangku kepentingan yang sangat banyak. Sama seperti yang telah kita lakukan memberdayakan dengan tujuan mensejahterakan. Akan tetapi sekali lagi tidak berjalan. 

Sudah sangat nyata bukanya tidak ada upaya dari kita yang memiliki tidak hanya ilmu, tapi tindakan, dan dana. Lebih dalam dari itu ternyata saya mendapat sebua kesimpulan penting. Menurut saya kegiatan itu memang harus berlandaskan pengadian sosial. Apa itu sosial, ya betul bersosial. Nah kegiatan itu berlandaskan sosial maka tentu tolak ukurnya adalah upaya untuk memberi nilai tambah baik dalam hal wawasan, pendidikan, pengalaman, pandangan dan lain sebagainya untuk peningkatan SDM. Saya katakan sebagai sekolah non-formal. Kalau sudah berfikir demikian tentu dalam menjalankanya memudahkan kita dalam menysunya. 

Kenapa demikian, ya karena sejauh ini kalau suatu masyarkat diajak untuk kegiatan yang bersifat produktif apalagi berbasis keuntungan itu belum sampai. Mereka hanya baru sampai pada tahap peningkatan SDM. Suatu program dikatan tertolak secara fisik yakni produksi dalam arti bukan berarti mereka tidak mau, karena sebenarnya mereka sudah punya latar belakang masing - masing. Nah dari latarbelakang demografi ini lah yang menjadi acuan bagi mereka, kalau ada sesuatu yang baru dan tidak relevan dengan hal ini tentu akan sulit masuk. Walau tidak dipungkiri memang tetap ada kemungkinan orang - orang baru. 

Dari hal tersebut maka akhirnya perlu adanya upaya penyederhanaan yakni kalau kegiatan bersifat dan atas dasar sosial maksimalkan saja dalam bentuk kegiatan atau event atau acara yang memberi nilai tambah kognitif. Sedangkan kalau memang mau berskala produksi harus dimulai dari individu. Kalau produksi dikerjakan oleh banyak orang biasanya tidak akan berjalan lama, komitmen dari anggota begitu jauh. Seseorang cukup menjadi pemenang dengan dasar pemikiranya, setelah itu berjalan perlu adanya tenaga kerja, pemasaran, dan tenaga teknis yang bisa memperkerjakan orang. Nah warga masyarkat tadi itulah yang kita ajak dan kita berdayakan. Dengan melibatkan aspek masyarkat tentu pada akhirnya akan menjadi pemberdayaan masyarakat yang produktif. 

Sebagai pandangan lain, mungkin akan lebih tepat jika memang sudah ada sejumlah orang yang sudah berjalan dan nantinya ditingkatkan. Memang tidak semua kampung ada, akan tetapi yang sudah ada tentu akan jauh lebih mudah. Dipandu mulai dari SOP, pemasaran, hingga peningkatan kualitas produk yang nantinya menjadi icon besar yang diwadahi satu kelompok. Sehingga mereka dapat fokus untuk produksi dengan produk yang relatif sama, terlebih barang2 tersebut adalah latarbelakang dapur mereka. 

Dari dua perspektif ini tentu tidak semuanya benar, hanya pandangan saya sebagai pelaku yang merasakan dan bagaimana kita memposisikan diri diantara keduanya. Sehingga tindakan kita menjadi tepat dan terarah tanpa harus membuang banyak waktu, pikiran, tenaga, dan biaya untuk hal yang percuma. 

0 comments:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar