11 November 2016

Masyarakat Itu Sederhana

Agung Prasetyo

Jika kita memaksakan diri menerapkan konsep, pengetahuan, dan kata dalam lingkup masyarkat untuk gagasan kita berbakti kepada masyarkat akan kandas. Seringkali bukan karena kita yang tidak mau, akan tetapi menerapkan ilmu dan pengalaman justru bertabarakan dengan mereka yang ingin kita abdikan. Masyarkat yang notabene memiliki latar belakang pendidikan, pengetahuan, dan pengalaman yang lebih sedikit tentu tidak akan berfikir sejauh kita. Pernah saya mendengar dari seorang teman baru dari Dinas "Masyarkat itu sederhana, Jangan mikirin besuk - besuk, mungkin esuk aja gak terpikirkan". Banyak sekali halangan, pemikiran dan ide yang sudah ratusan seharusnya mau diterapkan, akan tetapi kita harus berfikir ulang - ulang, apakah konsep- konsep universitas itu bisa dipakai. Ternyata tidak. Justru pertenganganlah yang terjadi. "Berbuat baik kok susah" ya memang seperti itu lah. 
Tidak sesederhana yang kamu lihat, tapi sederhanakanlah
Disisilan, sebagai seorang sarjana,kita mewakili mereka yang tidak berkesempatan mengenyam bangku kuliah, bagaimana pun itu tangungjawab kita. "Inilah tantanganya". Konversikan semua baik pemikiran, ide, gagasan secra konseptual dan lebih sederhana, "Yang rumit kita sederhanakan, yang sederhana tidak perlu diperumit". Biarpun pelan yang penting jalan, itu akan lebih baik, dari tidak sama sekali atau bahkan menutup diri. Jika demikian tantangan itu belum terselesaikan. Membangun masyarkat orang lain tentu lebih mudah, tetapi membangun tanah kelahiran sendiri jauh lebih sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Selama karya itu ada, setiap elemen kita libatkan, terapkan paling sederhana, pada akhirnya semua akan mengetahui bedanya melalui sebelum dan sesudah kita ada. Tidak perlu diapresiasi tapi cukup berbakti. 

Mencoba membaur, terlibat, menurunkan kosa kata, berbagi pemikiran, tunjukan karya, ajak semua elemen, terjun langsung, dekat kan diri dengan pemuka, gunakan prinsip "give take give more". Pantang menyerah, cemooh itu biasa, sakit hati juga wajar, kesalahan itu manusiawai, hitam selalu ada diatas putih, tak perlu menjadi nomer 1, tak gak melulu dibalik layar, lakukan regenerasi, siapkan mental, harta, pikiran, dan waktu. Pasang badan itu wajib, jadi pelopor, memberikan contoh, sistematis bukan berarti teoritis, eksplisit maupun implisit, bisa mengajak paradigma tapi lebih baik disembunyikan, cukup bicarakan teknisnya. 

Persahabatan, persaudaraan, perjuangan, kenangan, tawa, ngantuk, sedih, prihatin, kuatir, cemas, berfikir, nelongso, bentuk rasa cinta kita memiliki mereka. Sekalipun mereka tidak memikirkan kita, kita harus tetap memikirkan mereka. Gain itu ternyata saya dapatkan sendiri, justru saya banyak belajar dari mereka, sosial skill, soft skill, dan menempatkan diri di tanah itu tak ternilai dengan uang. Ayo tunjukan aksimu, "ini aksiku mana aksimu" Ibu pertiwi mempertanyakan itu. 

0 comments:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar