Proposal Penelitain: Gap Komunikasi Tenaga Kerja Migrant

CHAPTER I
INTRODUCTION

A.  Title of research

Judul merupakan sebuah pencerminan dari isi dan tujuan yang dibahas pada suatu buku atau bab dalam dalam bentuk sebuah penamaan (Oxford Dictionaries). Oleh karena itu penelitain ini berjudul “The Analysis of Anakes Communication of Indonesian Migrant Domestic Workers on Singapore (Case Study Indonesian Migrant Domestic Worker in Banyumas Post-Migration of Singapore)”

B. Research Background

Dalam era global sekarang ini terjadi peningaktan arus baik barang maupun jasa yang menintegrasikan di seluruh dunia seperti dalam sebuah rumah tangga dunia, dimana tidak ada lagi jarak raung dan waktu untuk saling memenuhi kebutuhan manusia dengan adanya demanding dan request yang dapat terpenuhi dengan mudah, perkemabngan yang sangat pesat ini juga ditandai dengan era millennium ke-3 yang terjadi sekarang ini abad ke 21. Pada mileneum ketiga perkembangan teknologii informsai, ilmu pengetahaun menajadi, ekonomi dan kemajuan suatu Negara menjadi setajata dalam persaingan antar Negara, bukan lagi peperangan secara fisik pada perang dunia 1 dan 2. Pada glablisasi di millennium ke tiga ini terjadi dua perkembangan yang pesat disekor komunikasi dan transportasi. Dimana teknologi informasi berkamabnga secara ceapt dan informasi sangat mudah diakses oleh setipa orang serta taransportasi yang selalu meningakat karean adanya arus migrasi dan pemeneuhan kebuthan mansuisa itu sendiri, salah satu dianatarnay adalah tenaga kerja migrant, yang bermigrasi untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya.  Sebenarnya fenomena migrasi sudah terjadi beradab-abda yang lalu, di indonesia sendirimigrasi sudah terjadi pada masa pemerintahan hindia belanda, mulai pengiriman TKI ke suriname, ke Malaysia dan singapura serta ke Negara asia lainya. Migrasi terjadi bukan karena tanpa alasan, berdasarkan para ahli terdapat dua faktor utama dlam sebuah teory neoclasilacl, De hass (1991)menjelaskan bahwa faktor utama migrasi tersebut adalah karena adanya push dan pull faktor, yang lebih di dominasi oleh faktor ekonomi. dimana ada fator pendoranga tenaga kerja dari Negara penggriam yang sangat komplek seperti halnay di indonesia, karena pengganruan , kemiskinan, semptnya lowongan pekerjaaan dan so on, semenatara faktor penariknay adala adanay permintaan tenaga kerja ke luar naegeri seperti pada Negara penerima malaysia dan singapra yang emngalami pertumbuhan ekonomi yang pesat sehingga butuh tenaga kerja untuk mengisi posisi yang di hindari oleh orang penduduk asli sana yang di istilahkan dengan 3D job (demanding, dirt and dangeorous) oleh karena itu penyeraan tenaga kerja sangat tinggi terutama sector domestic yang disi oleh Negara-negara penggirm dari indonesia, Filipina, sri langka and india.

Singapura sebagai salah satu Negara penerima di asia tenggara menjadi sasaran bagi Negara penggiram termasuk  indonesia pada tahun 2012 jumlah domestic worker mencapai setetnagah dari total PRT disana (asiaone.com, 11 November 2012), dari total PRT sejumlah 200.000 orang. Secara georfsi singapura dekat dengan indonesia,ayng berda pada perbatasan dengan pulau batm yang dipisahkan oleh selat malaka, adanya tingakta kebudataan yang sam, bahasa, perekambangan teknoligy yang pesat kerjasama antara pemrintah ina dan singapra dalam memberikan rgulsi pengirman dan peneriman TKI untk memenuhhi kebutuhan tenaga kerja sector domestic disana. Jumalha tenaga kerja yang dikirm oleh ina ke singapura adalah tenaga kerja wanita Karena wanita lebih dibutuhkan untuk menjadi maid dalam rumah tangga, pekerjaan mereka adalah pkerjaan melakukan kebersiahn rumah seperti mencuci, mengepel, membersihkan kamar tidur dan kamar mandi dan mengasuh anak, orang tua dan lain-lain yang berkaitan dengan pekerjaan domestic. jumlah Prt di singapura sangt lah tingi hampir 1 dari settipa rmah tangga disingapura memiliki PRT (Jakarta Post, . Mereka menjadi bagian penting dalam roda ekonomi disingapura,mereka bukan hanya seoran maid tatapi juga sebagai aktor ekonmi dunia, kaena dengan bekerjanya mereka sebagai maid maka majikanya terutama wanita bisa terjun dalam angakatan kerja, hal ini terbukti adanya peningaktan partisi pasi wanita singaura dalam angaktan kerja (HRW, 2005: p. 0). Klau dilihat lagi Indonesia domestic worker (IMDWs) adalah merupakan tulang pungung bagi keluarga mereka. Mereka mencari nafkath utnuk menghupi keuarga mereka, sebagai sumber panapatan keluarga yang utama, heath facility, land investment dan menyekolahkan anak merka dari remittance yang mereka kirim pada tahun 2012 jumlahnya mcnacpai…………, bahkan mereka juga memebrrikan devisa yang sangat besar bagi Negara pada tahun 2012 jumlah devisa mereka mencapai ……….. sehingga pemerintah memebrikan gelar dengan nama “pahlawan devisa”.
Akan tetapi jasa meraka tidka di imbangangi dengan tingkat eningkatan kualitas dan erlindungan terhada mereka oleh karenanya banyak terjadi kasus yang menimpa mereka, baik dari kekerasan fisik, mental dan seksual hingga penyekapan dirumah majikanya hingga kondisi tempat kerja yang tidak memadai, mereka tidur dilantai, bekerja hingga larut malam dengan sedikit kerja, tidak ada hari libur No day off setiap miggu, bekerja melebihi atau diluar kontrak kerja hingga gaji yang tidak dibayarkan, dan kasus seperti ini selalu ada disingaura. Terutama yang kita soroti dalam penelitain ini adalah kasus abuse yang terjadi pada IMDWs karena jeleknya koentensi mereka dengan majikan yakni menggunakan bahasa inggris, walau memang bahasa inggris hanya merupakan salah satu bahasa resmi yang ada disana. Kekerasan ini terbgai menjadi dua dari damak miss komunikasi ini, baik verbal maupun physical abuse.

B. Research Question

Research question dalam penelitan berfungsi sebagai benanga merah jalanya sebuah penelitan agar arah dan pembhasan penelitan terarah dengan baik yang kemdian akan di jawab pada penjelasan dari peneltian ini, oleh karenanya setelah kita mengetahui latar belakang diatas maka penelitan ini akan mencoba menjawab pertanyaan dibawah ini:
  1. Apakah yang dimaksud dengan the gap communication pada IMDWs? Factor low komtece dan factor lainya dibalik itu? Apakah benar bahwa low kometnece of IMDWs menyebabkan mereka mendapatkan abuse.
  2. Bagaimanakah the gap komunication itu terjadi pada IMDWs di singaura yang berkibat pada kekerasan terhadap mereka?

C. Research Objectives

Pada penelitian ini mengkaji tentang fenomena social yang ada dalam masyrkat berupaobjek yang bergerak yaitu manusia, oleh karenanya penelitian ini melihat fenomean pengguaaan bahaa yang ada dalam masyrakta yang kemudain di kaju dengan pendekataan penelitain lingusitick yang berfokus pada kejadian eanakes bahasa communication gap yang terjadi anatara speaker (employer) dan receiver (domestic worker) dan sebaliknya, sehingga di jelaskan dalam penelitain exploratiave kualitatif yang di dukung dngan analysis teory ehinografi of speaking. Study kasus yang digunakan dalam penelitain ini adalah Indonesia Migrant domestic workers (IMDWs) atau juga sering disebut sebagi Foreign domestic worker (FDWs), house keeer dan maid, kalau di indonesia sering dinamakan TKW (tenaga krja indonesia) karena istilah-isltelah diatas sebeneranya sama yaitu terjutu ada maid who sent to overseas. Mereka yang berkeja disingapura , dan melalui wawancara terhda objek yang purosive resomdnent yang post migaration dari singare di kabpuatan banyumas.

C.  Research Significance

Penelitain diadakan kualtiataif bidan social dan budaya seperti ini berusaha untuk menguugkap fenomena yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu hendaknya penelitan ini berdampak bada objek yang di kaji serta pihak lain yang terkait dalam cakupan penelitan ini.

D. Research Limitation

Dalam kajian penelitan yang dibahas ini sangat erat sekali keitanya dengan tiga sub disilin ilmu bahasa, komunikasi dan social, oleh karenaya focus penelitan ini pada kajian ilmu sosiolingusik dan fenomena yang terjdi didalamua yanh lebih mentitk berakan ada fenoomena bahasa dalam kaitanya dengan komunikasi yang berdamal ada kajian sosila


CHAPTER II 
LITERATURE

A. Sejarah di Singapura

Penjajahan adalah proses hegemoni mengesankan oleh satu negara atas negara lain biasanya untuk motif profit. Keuntungan dibuat dengan mendirikan tempat-tempat perdagangan yang kuat dalam negara terjajah. Secara historis, pulau ini, Singapura, adalah sebuah desa nelayan Melayu.Terbukti tempat ini menjadi luar biasa bermanfaat untuk memancing karena terletak di mulut sungai Singapore. Ini terjadi sebelum pendudukan Eropa tetapi sekarang Singapura dikenal dengan jelas sebagai negara kota pulau. Banyak suku asli dan cerita rakyat hidup di daerah perbatasan pulau dan sungai . Sejarah menyatakan bahwa British East India Company yang dipimpin oleh Sir Stamford Raffles telah mendirikan sebuah tempat perdagangan di pulau yang menjadikan Singapura sebagai pusat komersial paling makmur pada tahun 1819. Kekuatan militer Singapura, di bawah British East India Company juga menjadi unggul . Kekuatan militer sebuah negara identik dengan kekuatan negara. Hal ini membuat Singapura sebagai pusat dari modernitas itu sendiri yang ditentukan melalui keberhasilan komersial dan kekutan militer. Secara berkelanjutan , Singapura dahulu merupakan inti dari hegemoni Inggris di Asia Tenggara (http://aseanmobile.mobi/singapore/indonesian/history.php)

B. Enografi of speaking

Sebelum istilah etnografi komunikasi semakin populer dipakai, istilah etnografi berbicara (ethnography of speaking) lebih awal diacu sebagai pemerian pemakaian bahasa lisan. Etnografi komunikasi menjadi lebih luas karena tidak hanya melingkupi modus komunikasi lisan (speaking), tetapi juga melibatkan komunikasi tulis (writing) serta komunikasi isyarat (gesture), gerakan tubuh (kinesics), atau tanda (signing). Pemakaian tuturan Apa khabar?, Comment alle vous? (bahasa Perancis), Hoe gaat het? (bahasa Belanda) dengan arti yang sama tentu saja berbeda modus kemunculannya dengan tuturan Dengan hormat, Dear Sir, Beste Meneer, Hormat kami, sincerely yours. Kelompok tuturan pertama terjadi dalam modus lisan, sebaliknya kelompok tuturan kedua hanya muncul dalam modus tulis. Kedua modus ini juga sangat berbeda dengan modus komunikasi isyarat, bahasa tubuh atau tanda yang menggunakan anggota badan atau alat. Orang Indonesia akan menganggukkan kepalanya untuk menyatakan makna setuju, tetapi orang India justru mengayunkan kepala dengan membentuk gerakan angka 8 untuk makna yang sama. Orang Tibet menggesek-gesekkan hidungnya dengan hidung teman untuk menyatakan selamat datang, sedangkan orang Indonesia melakukan hal yang sama dengan saling berjabat tangan. Menariknya lagi, Orang Tibet akan menjulurkan lidahnya sebagai sapaan untuk menyambut tamu, yang bagi orang Indonesia tindakan demikian diartikan mengejek. Sebaliknya sapaan untuk menyambut tamu orang Indonesia menyatakan selamat datang sambil mempersilahkan masuk dan seterusnya.  Kalau orang Indonesia menjulurkan tangannya ke bawah sambil berjalan membungkukkan badan pertanda ia meminta permisi untuk minta lewat di hadapan orang lain, tetapi bagi orang Arab, mereka justru memegang kepala orang yang dilewatinya. Orang Jepang menggenggam keempat jemarinya kecuali kelingking untuk menyatakan makna perempuan, sebaliknya orang Indonesia mengartikan tindakan demikian sebagai pernyataan anggap remeh atau enteng terhadap seseorang atau sesuatu hal.

Di samping contoh-contoh di atas, tentunya masih banyak lagi komunikasi nonverbal yang terdapat sebuah masyarakat bahasa.  Hampir semua anggota badan dapat mengkomunikasikan makna tertentu sesuai dengan apa yang dipahami masyarakatnya. Demikian pula pemakaian alat atau benda-benda juga memberi arti tersendiri bagi sebuah masyarakat tertentu. Pakaian berwarna putih yang dikenakan seorang perempuan india misalnya dimaknai sebagai pernyataan ditinggal mati sang suami. Penggunaan pluit untuk mengirimkan pesan morse juga termasuk dalam kategori ini.

Perbedaan mendasar antara satu komunitas dengan komunitas lainnya dalam hal komunikasi lisan, tulis, isyarat, gerakan tubuh, dan tanda turut membangun kaidah-kaidah bahasa. Selain itu, prinsip dasar etnografi komunikasi juga memerikan perbedaan aturan berbicara (rule of speaking), misalnya kapan harus berbicara dan kapan harus diam (lih. Fasold, 1990: 40). Aturan berbicara ini bisa sangat berbeda antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya. Kebanyakan Orang Amerika Kulit Putih Kelas Menengah mematuhi kaidah pergantian percakapan “no gap, no overlap” (tidak ada kesenyapan, tidak ada tumpang tindih) (Schegloff, 1972). Dalam sebuah percakapan, mereka berbicara saling bergantian agar tidak tumpang tindih. Jika yang satu berbicara, yang lain mendengarkan. Kaidah percakapan ini disebut “no overlap.” Sebaliknya, jika keduanya diam lebih dari beberapa detik,  mereka justru tidak merasa nyaman. Seseorang akan mengisinya dengan percakapan yang tidak penting agar “tidak ada gap” dalam komunikasi tersebut.  Reisman (1974) menemukan kaidah yang berbeda pada masyarakat Antigua. Mereka cenderung berbicara saling tumpang tindih. Yang satu berbicara yang lain menimpali pada saat yang sama. Dengan cara ini, mereka tidak mengikuti kaidah percakapan yang “no overlap.”  Saville-Troike (1982) melaporkan bahwa  orang Indian Amerika justru biasa menunggu beberapa menit sebelum seseorang menjawab pertanyaan atau mengambil alih pembicaraan. Demikian pula halnya dengan masyarakat Lapp di Swedia Bagian Utara tempat Reisman (1974: 112) tinggal.  Gap percakapan sudah menjadi bagian dari cara berbicara mereka.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa etnografi komunikasi adalah semua bentuk pemerian komunikasi yang bermakna baik menggunakan tuturan verbal maupun isyarat, bahasa tubuh atau tanda nonverbal. Dalam kajian kebahasaan pada umumnya, hanya tuturan verbal yang diperlakukan sebagai objek kajian sedangkan sisanya dianggap sebagai konteks. Pemerian pemakaian tuturan verbal saja disebut etnografi berbicara, dalam hubungan ini modus komunikasi tulis juga dikategorikan objek kajian sosiolinguistik karena media cetak juga memberi perbedaan pada pemakaian bahasa. Dalam wacana yang lebih umum, bahasa tulis, kendatipun berbeda, sebenarnya merupakan bentuk pencatatan dari komunikasi lisan. Dewasa ini etnografi komunikasi boleh saja dipandang sebagai bentuk perluasan dari etnografi berbicara, namun aspek-aspek nonverbal tadi sekali lagi hanya diperlakukan sebagai konteks yang mempengaruhi makna tuturan. Akibatnya, aspek-aspek nonverbal tersebut tidak menjadi tujuan dalam penelitian sosiolinguistik.

Menurut Hymes (1962/1968: 101), ada empat hal pokok yang diuraikan dalam sebuah etnografi berbicara, yaitu pemerian situasi, pemakaian, struktur, dan fungsi aktivitas berbicara tersebut. Namun demikian, di balik pendekatan struktural-fungsional yang disarankan Hymes tersebut, hakikat etnografi bagi Milroy (1987: 172) bertujuan menyelidiki aturan-aturan berbicara (rules of speaking). Aturan-aturan berbicara ini dianalisis berdasarkan faktor-faktor situasional yang mempengaruhi pemilihan kode bahasa.

Aturan berbicara (rules of speaking) sebaiknya dibedakan dengan norma bicara (norms of speaking). Walaupun keduanya menjadi lahan pemerian sebuah pendekatan etnografi, namun fungsinya bagi pemakai bahasa juga berbeda.  Norma berbicara sesuai namanya dapat dipahami sebagai etika yang membatasi bagaimana komunikasi yang diinginkan, tepat atau tidak tepat, pantas atau tidak pantas sesuai konteksnya. Oleh karena itu, norma berbicara diperlukan pemakai bahasa sebelum berbicara, dan norma ini menjadi pengetahuan praktis pemakainya. Di sisi lain, aturan berbicara merupakan hasil akhir kajian terhadap aktivitas berbicara. Sebagaimana ditandaskan sebagai tujuan etnografi bagi Milroy, norma menjadi bersifat teoretis dan ia berada di luar kemampuan pemakaian bahasa. Dengan kata lain, norma berbicara adalah aspek internal bahasa, sedangkan aturan atau kaidah bahasa merupakan aspek eksternal bahasa.

Disimak dari teori fungsi yang banyak dikemukakan para ahli, fungsi bahasa terpokok dapat diperas menjadi dua, yaitu fungsi interaksional dan fungsi ideasional, yang pertama berfungsi untuk membina atau mempertahankan hubungan sosial dan yang terakhir berfungsi untuk menyampaikan informasi atau gagasan. Sejalan dengan dengan fungsi bahasa ini,  aktivitas berbicara seyogyanya pula dapat diformalkan dalam dua bentuk, yaitu bentuk fatis dan bentuk pikiran. Klasifikasi dikotomis semacam ini tidak bertentangan dengan pendapat Bronislaw Malinowski (1949) yang mengatakan bahwa aktivitas berbicara yang pertama lebih menekankan pada modus aksi (mode of action), sedangkan aktivitas berbicara yang kedua cenderung menekankan modus kognisi (mode of thought. http://blog.uin-malang.ac.id/aviroes/2010/10/18/etnografi-komunikasi-dan-berbicara/

Note: Tulisan dan referensi tidak lengkap karena ini hanya catatan. Silahkan cari referensi lainya. Hanya untuk membantu memberikan gambaran contoh proposal penelitian terkait TKI dari aspek bahasa.

0 Response to "Proposal Penelitain: Gap Komunikasi Tenaga Kerja Migrant"

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar